Selasa, 20 November 2012

Misteri Otak Jenius Albert Einstein Terungkap


Selasa, 20 November 2012, 12:47Bayu Galih, Amal Nur Ngazis
Albert EinsteinVIVAnews - Ilmuwan legendaris Albert Einstein telah lama dianggap sebagai salah satu orang yang sangat jenius yang pernah hidup. Ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana bisa Einstein begitu istimewa di dunia sains?

Teka teki tersebut menemukan titik terang saat para ilmuwan menemukan sebuah petunjuk dari dalam otak milik fisikawan itu. Menurut sebuah studi baru yang dipimpin antropolog evolusi, Dean Falk dari Florida State University  (FSU), ditemukan bahwa bagian dari otak Einstein tidak seperti otak orang kebanyakan dan memiliki kemampuan kognitif yang luar biasa.

"Beberapa hal tampak normal," kata Falk kepada The Huffington Post. "Ukurannya normal, bentuk otak secara keseluruhan asimetris, dan itu normal. Apa yang tidak biasa adalah kompleksitas dan konvolusi (lipatan cembung di permukaan otak) di berbagai bagian otak," ujarnya.

Menurut pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Universitas, dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal "Brain" edisi 16 November 2012, terungkap deskripsi seluruh korteks serebral Einstein. Korteks serebral merupakan lapisan tipis berwarna abu-abu yang terdiri dari 15-33 miliar neuron.

Untuk melakukan hal ini, Falk dan rekan-rekannya meneliti 14 foto baru yang belum terungkap dari otak Einstein. Foto itu, kata Falk, sulit untuk didapatkan.

Dokumen Foto Otak Einstein
Catatan National Public Radio (NPR), sebuah organisasi media Amerika
Serikat, menyebutkan saat Einstein meninggal pada 1955 otaknya telah dikeluarkan oleh Thomas Harvey, seorang dokter di rumah sakit tempat Einstein meninggal. Sangat mungkin bahwa Harvey tidak pernah mendapat izin untuk mengeluarkan otak sang jenius itu.
Tetapi penulis Brian Burrell dalam "Postcards from the Brain Museum" mengatakan dokter tersebut mendapat persetujuan dari anak Einstein. Harvey mengatakan bahwa ia bermaksud untuk mempelajari otak Einstein. Atau setidaknya, Harvey akan berupaya menemukan ilmuwan lain untuk melakukannya.

Berkat Harvey, para ilmuwan dapat mempelajari otak Einstein berdasarkan sejumlah foto dan slide spesimen yang telah disiapkan oleh Harvey. Otak tersebut, yang difoto dari berbagai sudut, juga telah dipotong menjadi 240 blok dan slide-nya telah dibuat secara histologis.

Sebagai catatan pernyataan FSU, sebagian besar foto, blok dan slide telah hilang dari publik selama lebih dari 55 tahun. Untungnya, sejumlah dari dokumen tersebut baru-baru ini telah ditemukan kembali dan beberapa dokumen saat ini dapat ditemukan di National Museum of Health and Medicine.

Dokumen tersebut tersisa sebanyak 14 berkas. Meski demikian, Falk dan rekan-rekannya tetap mampu melihat lebih dekat, dan mencari tahu misteri yang tersimpan di otak Einstein.

Keistimewaan Otak Einstein
Apa yang mereka temukan adalah keajaiban. "Meskipun ukuran keseluruhan dan bentuk asimetris otak Einstein tergolong normal, tapi prefrontal somatosensori, motor utama, parietal, temporal dan korteks oksipital miliknya luar biasa," kata Falk.

"Ini mungkin telah memberikan dasar-dasar neurologis untuk beberapa kemampuan visuospatial (kemampuan seseorang untuk memahami konsep melalui representasi visual) dan matematika," tambahnya.

Falk menjelaskan, misalnya bagian dari lobus frontal Einstein yang "ekstra sulit". Lobus parietal milik pencetus teori relativitas ini dalam beberapa bagian "luar biasa asimetris". Sedangkan somatosensori utama dan korteks motorik (daerah yang biasanya mewakili wajah dan lidah) itu "sangat luas di belahan otak kiri."

Falk pun mengaku terpesona. Selain Falk, kekhasan tersebut juga mengundang pertanyaan bagi Albert Galaburda, seorang ilmuwan syaraf di Harvard Medical School di Boston.

"Di antaranya adalah apakah Einstein memiliki otak khusus yang cenderung menjadikannya seorang fisikawan besar, atau apakah aktivitas fisika yang besar menyebabkan bagian-bagian tertentu dari otaknya berkembang," kata Galaburda, dalam majalah Science.
Kejeniusan Einstein, kata Galaburda, itu mungkin karena "beberapa kombinasi dari otak khusus dan pengaruh lingkungan yang Einstein tinggali."

Bukan Fenomena Baru


Namun yang menarik, penelitian otak Einstein bukanlah sebuah fenomena baru. Menurut BBC, pada 1999, para ilmuwan di Ontario McMaster University
mampu membandingkan bentuk dan ukuran otak Einstein dengan sekitar 90
orang yang memiliki kecerdasan rata-rata.

Para peneliti, yang juga menggunakan beberapa foto Harvey, pada waktu itu menemukan setidaknya "satu area otaknya secara signifikan berbeda daripada kebanyakan orang."

Bertahun-tahun kemudian, pada majalah Science terbitan 2009, Falk menuliskan analisa otak Einstein, dan mengklaim telah mengidentifikasi "sejumlah fitur yang tidak biasa, yang sebelumnya tidak dikenal."

Pintu sekarang terbuka bagi para ilmuwan lain untuk mempelajari lebih lanjut tentang otak fisikawan legendaris tersebut. Misalnya, Falk mengatakan, para ilmuwan bisa melihat "otak orang-orang jenius lain dan membandingkannya dengan Einstein."

"Ada sebuah revolusi terjadi di neuroscience saat ini dan ada teknologi yang bisa membuat gambar lebih bermakna," katanya. "Kami masih belajar dari Einstein, bertahun-tahun setelah kematiannya," ujar Falk. (ren)

© VIVA.co.id

Bagaimana Gen Penunjuk Jam Kematian Bekerja

Selasa, 20 November 2012, 19:55Arfi Bambani Amri, Amal Nur Ngazis
Kematian (ilustrasi)VIVAnews - Genetika menentukan warna rambut, golongan darah, dan kerentanan terhadap penyakit tertentu. Kini gen dapat dijadikan ukuran untuk memprediksi pada jam berapa manusia akan mati.

Para peneliti telah menemukan hal tersebut dan menerbitkan studi dalam edisi November 2012 dari Jurnal Annals of Neurology. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para ilmuwan yang mempelajari jam biologis internal tubuh (ritme sirkadian) melaporkan penemuan varian gen yang tidak hanya menentukan kemungkinan menjadi orang dengan pola yang mudah bangun pagi (morning person) tetapi juga memprediksi kemungkinan waktu kematian seseorang.

Menurut pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Harvard Medical School, gen biasanya memungkinkan untuk tiga kemungkinan kombinasi nukleotida (empat blok pembangun molekul DNA): adenine-adenine (AA), adenin-guanin (AG), dan guanin-guanin (GG).

Tim peneliti sebenarnya secara tidak sengaja menemukan temuan ini saat mereka sedang menyelidiki perkembangan pasien dengan penyakit Parkinson dan Alzheimer. Kemudian para peneliti memantau pola tidur dari 1200 subjek lanjut usia yang menjalani pemeriksaan neurologis dan kejiwaan.

Para peneliti menemukan sebuah molekul tunggal dekat sebuah gen yang disebut 'Periode 1' yang berbasis adenine (A) atau guanine (G). Gen molekul tipe A memiliki rasio yang lebih enam berbanding empat, oleh karena itu orang yang memiliki dua kromosom memiliki peluang 36 persen memiliki jenis molekul AA, 16 persen peluang memiliki GG dan 48 persen memiliki berpeluang memiliki molekul A dan G.

"Jenis genotipe tertentu ini mempengaruhi pola tidur dan bangun dari setiap orang pada hakikatnya," tulis Dr Clifford Saper, kepala neurologi di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston, seperti dilansir Huffingtonpost.

"Dan itu adalah dampak yang cukup mendalam sehingga orang-orang yang memiliki jenis gen AA bangun sekitar satu jam lebih awal dari orang-orang yang memiliki genotipe GG, dan genotipe AG bangun hampir persis di pertengahan," katanya.

Selain itu, para peneliti menyadari karena beberapa dari 1.200 subjek tersebut yang urutan nukleotida merupakan pemprediksi akurat dari jam kematian para subjek tersebut, dalam jarak hanya beberapa jam. Pasien dengan genotipe AA dan AG biasanya meninggal sebelum 11 pagi, sedangkan subjek dengan kombinasi GG cenderung mati sekitar pukul 18.00.

"Jadi ada benar-benar sebuah gen yang memprediksi kematian anda pada pukul berapa. Bukan tanggal untungnya, tapi waktu (dalam) hari," kata Saper.

Sementara itu laman The Atlantic melaporkan peneliti percaya hasil mereka mungkin mengingat tubuh manusia kembali kepada lebih alami, imbas ritme jam biologis internal yang ditentukan sebagai pendekatan kematian.

Sumber: Huffingtonpost, Daily Mail

Pose Lucu Obama Bareng Pesenam AS


Minggu, 18 November 2012, 13:31Nadia Hutami
McKayla Maroney bersama Presiden AS, Barack Obama VIVAnews –  Usai kembali terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama  mengundang lima pesenam belia Amerika Serikat yang meraih emas di Olimpiade London 2012 di nomor Women’s Artistic All Around ke Gedung Putih. 

Kelima pesenam itu adalah Aly Raisman, Gabby Douglas, McKayla Maroney, Kyla Ross dan Jordyn Wieber. Obama memang dikenal sebagai penggemar olahraga. Tak heran jika dia dan sang istri, Michelle memberikan perhatian lebih.

“Michelle dan saya sudah menonton semua pertandingan tim AS di Olimpiade. Dan dari semua atlet, kalianlah yang paling membuat saya kagum,” ujar Obama sangat menjamu kelima pesenam belia tersebut.
Obama bersama Fierce Five
Obama bersama 'The Fierce Five' 

“Saya sangat terkesan dengan penampilan kalian semua di Olimpiade. Beritahu orang tua kalian jika saya bangga dengan dengan prestasi kalian,” lanjut presiden yang pernah tinggal di Indonesia ini.

Tak hanya itu, dilansir Daily Mail, Obama juga menyempatkan foto bersama McKayla. Dia sempat menjadi bahan ejekan di internet karena menunjukkan wajah yang kecewa dengan bibir yang ditekuk setelah gagal mendarat sempurna di nomor senam vault.
Pesenam Mckayla MaloneyPose merengut McKayla 

Tidak mau kalah dengan McKayla, Obama juga berpose dengan ekspresi khas pesenam kelahiran Aliso Viejo, Kalifornia tersebut. Seolah tidak percaya, McKayla kemudian menuliskan pengalamannya tersebut di situs jejaring sosial Twitter.

“Apakah saya baru saja menunjukkan wajah tidak terkesan saya bersama Presiden?,” tulis McKayla di akun Twitter-nya. (adi)

Ilmuwan Temukan Gen Penentu Waktu Kematian ?????



TEMPO.CO - Ajal adalah misteri. Tapi, itu tidak membuat ilmuwan berhenti menelitinya. Baru-baru ini sekelompok ilmuwan menemukan variasi gen yang mempengaruhi jam tubuh manusia terkait dengan ajal. Begitu mendalamnya penelitian itu sampai-sampai dikatakan penemuan variasi gen tersebut bisa memprediksi jam di hari seseorang kemungkinan besar meninggal dunia.

Peneliti berharap penemuan itu akan digunakan untuk menentukan kapan pasien jantung atau stroke seharusnya mendapat pengobatan yang paling efektif. Atau juga, kapan pasien rumah sakit seharusnya dipantau lebih saksama.

Sebagaimana dilansir situs Daily Mail, Senin, 19 November 2012, penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika tersebut menemukan variasi gen secara tak sengaja ketika mereka menginvestigasi perkembangan penyakit parkinson dan alzheimer.

Dalam penelitiannya mereka melihat pola tidur 1.200 orang lanjut usia berusia 65 tahun yang diberikan penilaian tahunan tentang aspek neurologi dan psikiatri. Ternyata mereka menemukan molekul tunggal di dekat gen yang disebut "Periode 1" yang memiliki basis adenin (A) atau guanin (G). Keduanya adalah basa purin yang digunakan dalam membentuk nukleotida dari asam nukleat DNA dan RNA.

Basa purin tipe A adalah yang lebih umum dengan rasio enam berbanding empat. Disebabkan manusia punya dua set kromosom, manusia punya peluang 36 persen memiliki dua A basa purin, 16 persen punya peluang dua G asam basa, dan 48 persen berpeluang punya asam basa A dan G.

Temuan ini, yang dipublikasikan pada jurnal Annals of Neurology, menunjukkan bahwa seseorang dengan genotif AA cenderung secara alami untuk terbangun sekitar satu jam lebih awal ketimbang mereka dengan genotif GG. Sementara pemilik genotif AG terbangun hampir dipastikan di pertengahan waktu tidur.

Peneliti juga menunjukkan mereka dengan genotif AA atau AG meninggal rata-rata sebelum pukul 11 siang, sementara mereka dengan genotif GG cenderung meninggal sebelum pukul 6 malam.

"Jam biologis internal mengatur banyak aspek pada biologi dan kebiasaan manusia. Dia juga mempengaruhi waktu dari peristiwa medis akut seperti stroke dan serangan jantung," kata kepala peneliti Andrew Lim, dari Departemen Neurologi Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston, Massachusetts.

Mengomentari temuan ini, Clifford Saper, Kepala Departemen Neurologi Beth Israel Deaconess mengatakan, "Ini adalah gen yang memprediksi waktu di hari Anda akan meninggal. Sayangnya bukan tanggal, tapi jam di hari tersebut."

SUMBER